
ARENAKU. Pada awal tahun 2025, Bungie merilis Cinematic Short untuk game terbaru mereka, Marathon. Video sinematik ini langsung mencuri perhatian para gamer dan penggemar animasi berkat visualnya yang memukau. Namun, di tengah kekaguman publik, muncul kontroversi yang cukup mengejutkan: tuduhan bahwa video tersebut dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Setelah tujuh bulan sejak rilis, Alberto Mielgo, sutradara di balik Marathon, akhirnya buka suara. Ia menegaskan bahwa semua karya visual dalam cinematic short tersebut adalah hasil kerja tangan manusia, dan bukan buatan AI. Klarifikasi ini disampaikan melalui akun Instagram pribadinya, di mana ia mengaku cukup heran harus menjawab tuduhan yang menurutnya tidak berdasar.
Tim Besar dan Proses Kreatif yang Panjang
Dalam penjelasannya, Mielgo mengungkapkan bahwa proses pembuatan video ini melibatkan 155 orang yang bekerja dalam waktu berbulan-bulan. Mereka mengerjakan semua elemen secara manual, mulai dari lukisan digital, animasi 2D dan 3D, hingga compositing dan rendering akhir. “Kelemahan kami hanyalah waktu,” canda Mielgo, menekankan bahwa pengerjaan yang intensif dan detail membutuhkan dedikasi yang besar dari tim.
Mielgo sendiri bukanlah sosok baru di dunia animasi. Ia pernah memenangkan Oscar untuk animasi pendek The Windshield Wiper pada 2021, serta terlibat dalam dua short untuk serial Love, Death & Robots di Netflix. Pengalaman panjang ini menegaskan kredibilitasnya dalam menangani proyek sinematik besar dengan kualitas tinggi.
Pandangan Sutradara Tentang AI
Selain membantah tuduhan penggunaan AI, Mielgo juga berbagi pandangannya terkait teknologi tersebut. Ia mengakui belum sepenuhnya memahami semua potensi dan implikasi AI dalam proses kreatif. Namun, satu hal yang ia yakini kuat: AI tidak dapat menggantikan hasrat dan kegembiraan manusia dalam menciptakan seni.
Menurutnya, dorongan untuk melukis, merancang animasi, dan menghasilkan karya kreatif adalah sesuatu yang unik bagi manusia. AI mungkin mampu meniru gaya visual atau melakukan rendering cepat, tetapi ia tidak bisa meniru perasaan, keinginan, dan semangat yang mengalir dalam proses kreatif manusia.
Klarifikasi Penting di Tengah Kontroversi
Tuduhan bahwa Marathon dibuat oleh AI muncul di tengah perdebatan tentang plagiarisme dan keaslian karya digital. Meski begitu, konfirmasi dari Mielgo menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar. Semua elemen visual dalam cinematic short sepenuhnya dikembangkan oleh tim kreatifnya, tanpa menyalin karya pihak lain.
Pernyataan ini sekaligus menenangkan para penggemar yang sempat meragukan keaslian proyek. Marathon tetap dijadwalkan rilis pada Maret 2026, dan cinematic short ini menjadi bukti bahwa kreativitas manusia masih memegang peran penting di industri game dan animasi.
Menginspirasi Industri Kreatif
Kasus ini juga menjadi pelajaran penting bagi industri kreatif digital. Di era AI yang semakin berkembang, masih banyak yang mempertanyakan peran manusia dalam menciptakan karya seni. Mielgo membuktikan bahwa kolaborasi manusia dengan disiplin dan dedikasi tinggi tetap mampu menghasilkan karya yang mengesankan, sekaligus menunjukkan batasan AI dalam konteks kreatif.
Video sinematik Marathon bukan hanya sekadar promosi game; ia merupakan karya seni tersendiri yang memadukan estetika visual, narasi, dan teknik animasi mutakhir. Proyek ini menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah cinematic short tidak hanya diukur dari kecepatan produksi atau kemudahan menggunakan teknologi, tetapi juga dari ketekunan, kreativitas, dan integritas tim kreatif.
Kesimpulan
Dengan klarifikasi yang tegas dari Alberto Mielgo, tuduhan bahwa cinematic short Marathon dibuat oleh AI terbukti salah. Karya ini merupakan hasil kolaborasi intensif 155 orang profesional yang bekerja berbulan-bulan untuk menciptakan visual memukau dan narasi yang kuat.
Selain itu, Mielgo juga memberikan refleksi mendalam tentang keterbatasan AI dalam kreativitas, menegaskan bahwa seni dan hasrat manusia tetap tak tergantikan. Ke depan, cinematic short Marathon diharapkan menjadi inspirasi bagi para pembuat konten digital, sekaligus bukti bahwa kerja keras, dedikasi, dan kreativitas manusia masih menjadi fondasi utama dalam dunia animasi dan game.