
ARENAKU. Industri video game selalu dipenuhi harapan besar ketika studio ternama meluncurkan proyek baru. Begitu pula ketika BioWare, pengembang yang terkenal lewat Dragon Age dan Mass Effect, merilis Anthem pada tahun 2019. Game tersebut digadang-gadang sebagai tonggak baru perpaduan antara aksi multipemain dan dunia futuristik yang menawan. Namun, kenyataan berkata lain. Alih-alih menuai pujian, Anthem justru menuai banyak kritik hingga akhirnya dinyatakan akan menutup server pada Januari 2026.
Dalam sebuah kesempatan, Mark Darrah, mantan produser eksekutif BioWare, berbagi cerita tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik layar. Dari pengakuannya, terkuak alasan mengapa Anthem gagal berkembang, meski awalnya penuh potensi.
Transisi Sulit Dari Single Player ke Live Service
Salah satu poin utama yang disampaikan Darrah adalah transisi sulit yang dialami tim BioWare. Mayoritas pengembang sebelumnya terbiasa dengan game single player yang berfokus pada narasi, karakter, dan alur cerita yang kuat. Saat harus membuat game live service, mereka menghadapi tantangan baru: bagaimana menyatukan narasi mendalam dengan elemen multipemain yang menuntut pengalaman kooperatif tanpa putus.
Masalah muncul karena kedua elemen itu sering berbenturan. Alur cerita naratif bisa terganggu ketika pemain bermain bersama dalam satu tim. Hal ini membuat Anthem tidak bisa memberikan pengalaman emosional yang sama seperti Mass Effect atau Dragon Age, sekaligus gagal menawarkan keberlanjutan konten seperti Destiny yang memang dirancang untuk multiplayer sejak awal.
Hilangnya Visi Setelah Perginya Casey Hudson
Proses pengembangan game memerlukan arahan yang jelas. Menurut Darrah, krisis besar terjadi saat Casey Hudson, creative director BioWare saat itu, meninggalkan proyek. Sejak kepergian Hudson, arah kreatif Anthem menjadi kabur. Banyak keputusan penting kehilangan titik temu, sehingga tim pengembang tidak punya satu visi tunggal yang dijadikan pegangan.
Darrah kemudian masuk sebagai produser eksekutif, namun ia mengakui komunikasi antar tim sudah terlanjur berantakan. Hal-hal yang seharusnya diselesaikan sejak awal justru tertunda, menyebabkan keterlambatan dalam pengembangan.
Kendala Komunikasi Antar Studio
BioWare mengandalkan dua studio besar untuk mengembangkan Anthem: Edmonton dan Austin. Secara teori, kolaborasi ini seharusnya mempercepat pekerjaan. Namun kenyataannya, menurut Darrah, justru menimbulkan permasalahan baru.
Studio Edmonton lebih berfokus pada pengembangan inti cerita dan mekanik gameplay, sementara Austin dikenal dengan spesialisasi dalam konten multipemain dan live service. Sayangnya, visi dari kedua studio ini tidak selalu sejalan. Hasilnya, muncul miskomunikasi yang berdampak pada desain fitur serta konten yang tidak konsisten.
Minimnya Konten Menarik
Salah satu kritik terbesar pemain terhadap Anthem adalah kurangnya variasi misi. Darrah mengungkapkan bahwa ketika ia bergabung, hanya ada satu misi utama yang benar-benar siap, yaitu Den of Wolves. Ia berusaha memperluas jumlah dan variasi misi, namun usaha tersebut terhambat oleh keterbatasan waktu serta komunikasi yang buruk.
Minimnya misi membuat pemain cepat bosan. Dalam dunia live service, keberagaman konten sangat penting agar komunitas tetap aktif. Sayangnya, Anthem gagal memenuhi ekspektasi ini, sehingga banyak pemain merasa tidak memiliki alasan kuat untuk terus bermain.
Fitur Terbang, Ikonik Tapi Bermasalah
Salah satu daya tarik utama Anthem adalah fitur terbang dengan exosuit bernama Javelin. Fitur ini awalnya menjadi identitas yang membedakan Anthem dari game serupa. Namun, dalam proses pengembangan, fitur ini sempat dihapus, lalu dikembalikan lagi setelah mendapat tekanan.
Menurut Darrah, kembalinya fitur ini memang memberikan nilai tambah, tetapi tidak cukup untuk membangkitkan kembali semangat pemain yang sudah kecewa. Keputusan yang berubah-ubah juga menambah citra bahwa Anthem tidak memiliki arah yang konsisten.
Penutupan Server, Akhir dari Perjalanan
Setelah bertahun-tahun mencoba memperbaiki citra, pada akhirnya EA dan BioWare memutuskan untuk menutup server Anthem pada 12 Januari 2026. Keputusan ini bukanlah kejutan, karena sejak lama komunitas sudah melihat tanda-tanda bahwa game ini sulit bertahan.
Bagi sebagian pemain, penutupan ini menimbulkan rasa kehilangan. Meski penuh kekurangan, Anthem tetap memiliki penggemar setia yang mencintai konsep dunia futuristiknya. Namun, bagi industri, ini menjadi contoh nyata bahwa nama besar studio tidak menjamin kesuksesan tanpa perencanaan matang.
Pelajaran dari Anthem
Dari penjelasan Mark Darrah, ada sejumlah pelajaran berharga yang bisa dipetik, baik oleh pengembang game maupun industri hiburan digital secara umum:
- Visi kreatif harus konsisten. Pergantian pemimpin kreatif bisa sangat memengaruhi arah pengembangan.
- Komunikasi antar tim adalah kunci. Kolaborasi lintas studio memerlukan koordinasi yang solid agar tidak menimbulkan kebingungan.
- Konten endgame sangat vital. Tanpa variasi misi dan aktivitas menarik, pemain tidak akan bertahan lama.
- Janji kepada pemain harus realistis. Fitur ikonik tidak boleh dianggap sekadar gimmick, tetapi harus dikembangkan secara serius.
- Transisi genre tidak mudah. Studio yang terbiasa dengan game single player naratif harus mempersiapkan strategi matang sebelum masuk ke dunia live service.
Penutup
Kisah Anthem adalah pengingat bahwa inovasi memang penting, tetapi tanpa perencanaan, komunikasi, dan eksekusi yang baik, bahkan proyek dengan potensi besar bisa berakhir mengecewakan. BioWare, yang dulu dikenal sebagai raksasa RPG naratif, mencoba merambah ke dunia multipemain dengan ambisi besar. Sayangnya, ambisi itu justru berujung pada salah satu kegagalan paling mencolok dalam sejarah industri game modern.
Walau begitu, dari kegagalan ini, banyak pihak berharap BioWare bisa bangkit kembali dengan pembelajaran yang lebih matang, sehingga karya-karya mereka berikutnya bisa kembali bersinar.