
ARENAKU. Bagi para penggemar game lawas, nama Dino Crisis tentu bukan hal asing. Game survival horror yang lahir dari tangan dingin Capcom pada akhir 1990-an ini dikenal sebagai “Resident Evil versi dinosaurus”. Perpaduan antara misteri, ketegangan, serta kengerian makhluk purba menjadikan Dino Crisis meninggalkan kesan mendalam bagi gamer era PlayStation 1.
Namun, meski waralaba ini begitu ikonik, perjalanan kembalinya ke industri modern ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Bocoran dari seorang leaker ternama, Dusk Golem, mengungkap bahwa Capcom sebenarnya sempat berusaha membangkitkan Dino Crisis sebanyak dua kali dalam satu dekade terakhir. Sayangnya, kedua upaya tersebut berakhir sebelum sempat dirilis ke publik.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa sebuah waralaba yang punya basis penggemar kuat justru berkali-kali gagal bangkit? Mari kita telusuri lebih dalam.
Kegagalan Pertama Proyek Capcom Vancouver
Percobaan pertama untuk menghidupkan kembali Dino Crisis dilakukan oleh Capcom Vancouver, studio yang kala itu dikenal lewat seri Dead Rising. Studio ini kabarnya mendapatkan mandat untuk menggarap sebuah remake. Ide awalnya cukup masuk akal, mengingat pada periode yang sama Capcom memang tengah gencar melakukan remake untuk IP lawasnya.
Sayangnya, nasib berkata lain. Proyek Dino Crisis di Capcom Vancouver harus dihentikan secara mendadak karena studio itu sendiri ditutup oleh Capcom pada tahun 2018. Beberapa materi awal memang sempat dikembangkan, tetapi belum cukup matang untuk dilanjutkan oleh tim lain. Alhasil, rencana kebangkitan Dino Crisis pun ikut terkubur bersama penutupan studio tersebut.
Percobaan Kedua Gagal Memenuhi Harapan
Tak lama berselang, Capcom kembali mencoba membuka lembaran baru untuk Dino Crisis. Proyek kedua ini dikerjakan oleh tim berbeda dan tidak lagi berada di Capcom Vancouver. Sayangnya, hasil yang diperoleh dianggap tidak sesuai standar kualitas yang diharapkan.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa konsep yang dibangun tidak mampu menampilkan esensi asli Dino Crisis yakni kombinasi horor menegangkan, atmosfer mencekam, serta kehadiran dinosaurus sebagai ancaman utama. Karena tidak memenuhi ekspektasi, proyek ini pun akhirnya ikut dibatalkan.
Kedua kegagalan ini tentu menjadi pukulan telak bagi para penggemar yang sudah lama menantikan kembalinya waralaba klasik tersebut. Apalagi, Capcom pada periode yang sama berhasil meraih kesuksesan besar lewat Resident Evil 2 Remake, yang mendapat sambutan luar biasa dari kritikus maupun gamer.
Jejak yang Lebih Jauh Dino Crisis di Game Boy Color
Menariknya, upaya untuk menghadirkan kembali Dino Crisis bukan hanya terjadi di era modern. Jauh sebelumnya, Capcom juga sempat mencoba membawa game ini ke platform portabel, yakni Game Boy Color (GBC).
Yang mengejutkan, bukan hanya satu, melainkan dua versi berbeda sempat dikembangkan. Studio M4 Ltd dan Fluid Studios, keduanya berbasis di Inggris, masing-masing menggarap adaptasi Dino Crisis. Versi pertama hadir dengan sudut pandang top-down sederhana, sementara versi kedua berusaha meniru gaya kamera tetap ala PlayStation.
Sayangnya, kedua versi itu sama-sama tidak pernah mencapai tahap rilis. Kendala teknis serta keterbatasan hardware GBC membuat proyek tersebut dinilai tidak mampu memberikan pengalaman yang sesuai dengan standar Capcom. Lagi-lagi, Dino Crisis gagal menjelma menjadi kenyataan di platform lain.
Mengapa Capcom Sulit Menghidupkan Kembali Dino Crisis?
Pertanyaan besar yang muncul adalah mengapa Capcom bisa begitu sukses menghidupkan Resident Evil, tetapi gagal total saat mencoba hal serupa dengan Dino Crisis? Ada beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab:
- Kompleksitas Dinosaurus sebagai Musuh
Berbeda dengan zombie yang relatif lebih mudah dimodifikasi secara desain, dinosaurus membutuhkan detail visual dan animasi lebih rumit. Menghadirkan makhluk purba dengan realistis berarti beban produksi yang jauh lebih berat. - Pasar yang Lebih Terbatas
Walaupun Dino Crisis punya basis penggemar setia, popularitasnya tidak sebesar Resident Evil. Hal ini membuat Capcom lebih berhati-hati dalam berinvestasi. - Ekspektasi Fans yang Tinggi
Setelah dua dekade, fans tentu menaruh harapan besar pada kualitas remake. Capcom mungkin khawatir jika hasil akhirnya tidak mampu memenuhi standar yang diinginkan.
Harapan yang Masih Menyala
Meski proyek Dino Crisis sudah dua kali kandas, harapan untuk kebangkitannya belum sepenuhnya padam. Dalam beberapa survei resmi, Capcom kerap menanyakan kepada penggemar tentang IP mana yang ingin mereka lihat kembali. Menariknya, Dino Crisis hampir selalu masuk daftar pilihan favorit.
Selain itu, baru-baru ini Capcom juga memperbarui merek dagang Dino Crisis. Langkah ini memunculkan spekulasi bahwa perusahaan mungkin sedang mempersiapkan sesuatu, meski belum ada konfirmasi resmi.
Bisa jadi Capcom tengah menunggu momen yang tepat atau mencari tim yang benar-benar mampu memberikan nafas baru pada seri ini. Jika berhasil, kebangkitan Dino Crisis tentu akan menjadi salah satu kejutan terbesar di industri game modern.
Kesimpulan
Kisah Dino Crisis adalah contoh nyata betapa sulitnya menghidupkan kembali sebuah waralaba klasik. Meski punya sejarah gemilang, dua upaya modern Capcom untuk menghidupkannya gagal total—satu karena studio ditutup, satu lagi karena tidak sesuai harapan. Bahkan jauh sebelumnya, adaptasi ke Game Boy Color juga berakhir di jalan buntu.
Namun, kegagalan bukan berarti akhir segalanya. Minat penggemar yang masih tinggi, ditambah dengan keberhasilan Capcom dalam menghidupkan waralaba lain, memberi secercah harapan. Barangkali, suatu hari nanti kita bisa kembali merasakan tegangnya berlari di koridor gelap sambil dikejar dinosaurus buas.
Sampai hari itu tiba, Dino Crisis akan tetap menjadi legenda yang tidur panjang—menunggu saat yang tepat untuk bangkit kembali.