ARENAKU. Industri game memang selalu bergerak dalam siklus teknologi baru datang, tren berganti, dan estetika lama terkadang kembali populer. Namun, siapa sangka, hal yang dulu dianggap sebagai keterbatasan teknis kini justru dihidupkan kembali dengan penuh kebanggaan. Fenomena ini mengundang komentar dari Koji Sugimoto, salah satu programmer veteran Square Enix yang pernah menggarap Final Fantasy X dan Xenogears.

Sugimoto mengaku bingung dengan maraknya pengembang game modern yang sengaja mengadopsi visual ala era PlayStation 1 (PS1). Menurutnya, di masa lalu, tampilan seperti itu adalah tantangan teknis yang justru ingin dihilangkan bukan dipelihara.

Dulu Masalah, Sekarang Dibilang Gaya

Bagi Sugimoto, perkembangan teknologi grafis adalah pencapaian yang lahir dari kerja keras banyak orang di industri game. Salah satu contohnya adalah masalah texture warping atau efek tekstur yang terlihat bergelombang dan “miring” ketika kamera bergerak sesuatu yang umum pada era PS1 akibat keterbatasan perangkat keras.

“Dulu kami menghabiskan banyak waktu hanya untuk menghilangkan distorsi ini. Sekarang, malah ada yang sengaja menambahkannya demi menciptakan nuansa retro,” ujar Sugimoto.

Kini, dengan bantuan shader di mesin seperti Unity, efek PS1 bisa dibuat hanya dengan beberapa klik. Namun, bagi Sugimoto, kemudahan itu sekaligus membuat kesan bahwa upaya keras tim pengembang di masa lalu seakan tak berarti.

Kenapa Tren Ini Disukai?

Fenomena kebangkitan grafis low-poly ala PS1 ternyata punya penjelasan. Bagi sebagian orang, grafis ini bukan soal kekurangan, melainkan soal suasana.

Efek visual yang sederhana memancing imajinasi pemain memberikan ruang bagi mereka untuk “mengisi” detail yang tak terlihat. Hal ini mirip dengan musik 8-bit atau rekaman kaset lama yang terdengar sedikit berdesis ketidaksempurnaan itu justru menambah karakter.

Bagi para developer indie, gaya visual ini juga punya keuntungan praktis:

  • Lebih hemat sumber daya → Membuat aset low-poly jauh lebih cepat dan murah dibanding model 3D realistis.
  • Mudah dioptimalkan → Bisa berjalan lancar di perangkat dengan spesifikasi rendah.
  • Memiliki daya tarik nostalgia → Pemain yang tumbuh di era PS1 akan merasa seperti “pulang kampung” saat memainkannya.

Bukan Sekadar Soal Teknologi, Tapi Juga Emosi

Tren ini tidak hanya soal meniru masa lalu, tetapi juga menciptakan pengalaman emosional tertentu. Banyak game indie menggunakan gaya ini untuk menghadirkan suasana misterius atau horor yang unik contohnya Signalis dan Paratopic, yang memanfaatkan keterbatasan grafis untuk memicu rasa tegang.

Efek visual “kasar” ala PS1 memberikan kesan samar dan tidak jelas, sehingga imajinasi pemain bekerja lebih keras. Inilah yang membuatnya cocok untuk genre tertentu, terutama yang mengandalkan atmosfer.

Perbedaan Perspektif Antargenerasi Developer

Sugimoto mewakili pandangan generasi developer yang pada masanya berjuang mati-matian untuk melampaui batasan teknis. Setiap kemajuan visual dari pre-rendered backgrounds hingga model karakter yang semakin detail adalah kemenangan besar.

Sementara itu, developer masa kini punya kebebasan memilih gaya visual sebagai pilihan artistik, bukan karena keterbatasan teknis. Bagi mereka, mengadopsi gaya PS1 adalah cara untuk bereksperimen dan membangun identitas unik, bukan sekadar meniru masa lalu.

Final Fantasy X Tonggak Perubahan Besar

Sebagai pengembang Final Fantasy X, Sugimoto berada di garis depan ketika industri game melangkah ke era baru. Game tersebut adalah seri Final Fantasy pertama yang sepenuhnya menggunakan latar 3D, sistem pertarungan baru (CTB), dan pengisi suara lengkap untuk karakter utama.

Melihat kembali perjalanan itu, wajar jika Sugimoto merasa aneh melihat elemen teknis yang dulu dianggap “cacat” kini diangkat sebagai gaya yang disengaja. Baginya, setiap bug yang diperbaiki adalah langkah menuju kesempurnaan, bukan sesuatu yang ingin dipertahankan.

Antara Nostalgia dan Evolusi Seni Game

Fenomena ini menunjukkan bahwa estetika game selalu berubah, dan nilai sebuah gaya visual tergantung konteks zamannya. Apa yang dulu jadi masalah, bisa menjadi keunikan di masa depan.

Bagi pemain dan developer:

  • Veteran melihatnya sebagai pengingat perjuangan teknis masa lalu.
  • Generasi baru memandangnya sebagai kanvas kreatif untuk membangun suasana yang tak dimiliki grafis modern.

Kesimpulan

Kebangkitan visual ala PS1 adalah bukti bahwa dunia game tak hanya bergerak maju, tapi juga berputar kembali pada titik-titik tertentu untuk mencari inspirasi. Meskipun Sugimoto merasa heran, fenomena ini membuktikan satu hal, teknologi mungkin berubah, tetapi rasa ingin mengeksplorasi estetika lama akan selalu ada.

Pada akhirnya, perdebatan ini bukan soal benar atau salah, melainkan soal cara kita memandang sejarah apakah sebagai beban masa lalu, atau sebagai sumber kreativitas baru.

Posted in
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai